Selamat Datang

Selamat datang di website Program Beasiswa Pelangi. Program ini lahir untuk memberikan kesempatan bagi generasi muda Indonesia mempersiapkan diri dengan lebih baik bagi pembangunan bangsa.

ANAK-ANAK PELANGI

Christella Gunadi "Hobiku Mencuci Baju"

Perkenalkan nama aku, Christella Gunadi. Lebih suka di panggil Tella ketimbang Stella, walaupun ada salah satu temen aku yang maksa banget ganti nama aku jadi Stella. Aku salah satu dari sekian ratus siswa/siswi penerima Beasiswa Pelangi INTI. Aku menjadi penerima Beasiswa Pelangi INTI di mulai saat aku masih duduk di kelas 10 dan kini aku sudah berada di kelas 12 jurusan Akuntansi di SMK Taruna Andigha Bogor. 

Awalnya aku kira akan sangat sulit buat aku untuk menerima beasiswa ini karna proses seleksi yang lumayan bertahap atau bisa di bilang sangat ketat. Namun ketika aku melewati semua itu dengan yakin, Puji Tuhan akhirnya aku di terima dan sangat terbantu dengan Beasiswa Ini. 

Oiya, kini aku sedikit lagi berusia 17 tahun! Hobi aku adalah hobi yang tidak mainstream karna hobi-ku adalah mencuci baju. Kalau ditanya kenapa hobinya kayak gitu, karena hampir setiap hari atau dua hari sekali aku selalu membantu Ibu aku untuk mencuci baju.

Jadi, jika tidak mencuci baju aku merasa di rumah ada sesuatu yang kurang. Meskin hobi aku tergolong bukan hobi yang mainstream, tapi cita-cita ku masih tergolong mainstream karna cita-cita ku ingin menjadi orang sukses tanpa memiliki spesifikasi yang jelas, karna aku masih belum bisa menemukan dan menentukan apa yang sebenarnya ingin aku capai.

Meski begitu aku merasa bangun pagi untuk sekolah masih menjadi hal yang agak menyulitkan untuk-ku di tambah jalanan yang setiap pagi selalu macet. Tapi, hal itu aku anggap suatu rintangan karna ketika umur-ku nanti bertambah, di depan sana pasti akan ada rintangan yang lebih berat lagi!

Ditulis oleh Fira Pangestu

Liliek Purwanti "Belajar Terus Pantang Mundur !"

Bagi para siswa dan siswi dari keluarga tak berpunya beasiswa Pelangi meringankan beban ekonomi orang tua mereka. Testimoni itu menegaskan betapa bantuan para donatur bermanfaat mencegah anak putus sekolah.

Salah satu testimoni itu diberikan oleh Lilie Purwanti. Tentang manfaat program Beasiswa Pelangi siswi kelahiran Bogor, 10 Mei 1996 ini, menjawab tegas-tegas: “Besar sekali manfaatnya,”.  Di balik jawaban itu, ada cerita sedih yang sulit dilupakannya.  Saat duduk di bangku kelas 3  SMP, Ayahnya, Tjia Asen, 61 tahun, berpulang untuk selama-lamanya.

Kontan sejak ‘kepergian’ ayah tercinta, Liliek sempat kehilangan fokus dalam belajar. Pasalnya, duka itu datang menjelang ujian nasional (UN). Sebelum meninggal, Ayahnya yang bekerja sebagai security alias satpam merupakan ‘tulang punggung’ keluarga. Praktis kepergian Tjia Sen membuat beban ekonomi keluarga kian berat. Penghasilan dari Ong Hin Nio, 51 tahun, Sang Bunda yang  bekerja  di usaha   catering tidak mencukupi. Akibatnya pembayaran SPP sering telat. “Kadang nunggak 2 bulan,” ungkap Liliek.

Tak berapa lama usai bersekolah di SMK Ekawijaya Cibinong, Bogor siswa kelas X jurusan pemasaran ini berhasil mendapatkan beasiswa dari Pelangi. “Sejak menerima beasiswa Pelangi, rasanya seneng banget karena bisa meringankan beban orangtua.

Ia sengaja memilih jurusan marketing karena memiliki kesempatan luas untuk bersosialisasi. Sebagai ungkapan rasa syukurnya itu, Liliek Purwanti bertekad terus meningkatkan prestasi. Ia pun bersemboyan: Belajar Terus Pantang Mundur.

Siswi Kelas X ini sengaja memilih jurusan pemasarn karena ingin menjadi ahli di bidang ekonomi perdagangan. “Marketing itu berkesempatan luas untuk bisa bersosialisasi,” kata Liliek Purwanti menjelaskan keinginannya untuk menjadi marketing handal. Semoga berhasil. (Abdullah Taruna)

Yulianingsih "Duta SMAN Jakarta Barat dalam Olimpiade Fisika"

Meski Fisika merupakan mata pelajaran yang dianggap menyeramkan oleh banyak siswa, namun Yulianingsih, Siswi kelas XII SMA Negeri 94 Jakarta Barat justru berpandangan sebaliknya. Fisika itu mudah.

“Kajian fisika itu meliputi masalah-masalah di sekitar kita, seperti menghitung tekanan yang merupakan gaya dibagi luas permukaan bidang yang kena gaya. Itu kan masalah yang sering dihadapi banyak orang,” kata Yulianingsih.

Lalu apa penyebab utama banyak siswa yang mengeluhkan sulitnya belajar fisika?

“Teman-teman yang kesulitan, biasanya kalau membaca soal terlalu terpaku dengan simbol dan satuan. Satu contoh, satuan gaya itu newton, dan gaya disimbolkan dengan huruf F. Tapi biasanya mereka terpaku dengan huruf F sebagai simbol dari gaya, akibatnya teman-teman menjadi kesulitan dalam memahami masalah, “ terang Yulianingsih.

Dengan menganalisis sumber penyebab momok dalam belajar fisika, Yulianingsih berani mengatakan jika sebenarnya belajar fisika itu menyenangkan. “Belajar fisika itu ngga sulit. Fisika itu mudah, sehingga mudah untuk diterapkan,” tandas Yulia.

Lalu apakah itu berarti Yulia telah menorehkan prestasi di bidang ilmu yang tidak menyebabkan terjadinya zat baru itu?

“Waktu masih duduk di bangku SMP, aku berpikir untuk ikut olimpiade fisika. Tapi karena belum tersalurkan, keinginan itu belum kesampaian,” ungkapnya.

Namun hal itu tak membuat Yulia menyerah. Waktu kelas X, ia ikut tes seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diselenggarakan oleh musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). “Tapi langkahku terhenti di tingkat Kotamadya Jakarta Barat. Nah, saat kelas XI, ikut lagi OSN tembus sampai tingkat DKI Jakarta,” kisah Yulia, senang bisa mewakili SMA Negeri se-Jakarta Barat.

Nah, saat melaju mewakili SMA Negeri Se-Jakarta Barat di tingkat Provinsi, Yulia harus menjalani latihan selama 1 minggu di SMAN 28 Jatipadang, Jakarta Selatan. Di sini Yulia mendapatkan banyak pengalaman dan hikmah mengikuti OSN. “Aku tinggal di Jakarta Barat, sedangkan lokasi OSN DKI di SMAN 28 Jatipadang. Aku sempat nyasar (tersesat arah lokasi: RED.),” ungkap Anak Pelangi ini.

Belajar dari Pengalaman

Sebagai peserta OSN tingkat provinsi, tugas Yulia memang terbilang berat. Selain harus belajar keras menjawab soal-soal. Ia masih harus berangkat ke lokasi kompetisi fisika seorang diri, tidak mendapatkan fasilitas hantaran dari pihak sekolah. Padahal peserta dari sekolahan lainnya mendapatkan dukungan dari pihak sekolah, dari mulai fasilitas hantaran transportasi, sampai dibebaskan dari ujian tengah semester alias mid test.

Anak Pelangi yang bercita-cita menjadi guru ini pun bertekad menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran. “Kalau Yulia menjadi guru, ngga boleh begini. Kalau murid berjuang untuk sekolah, masa ngga bisa didukung? Katanya dengan nada retoris.

Dan dalam OSN itu, Yulia berkenalan dengan peserta dari sekolah BPK Penabur bernama Angela. “Waktu itu aku berteman dengan anak dari BPK Penabur. Aku pun bertanya, apakah Angela sudah mengikuti mid test? Angela pun menjawab, aku ma udah ngga ulangan, sudah dibebaskan, “kata Yulia menirukan Angela.

Kontan jawaban Angela membuat Yulia membersitkan harapan, alangka enaknya jika dia juga dibebaskan dari mid test. Kenyataannya lain, ia hanya diberi ijin untuk mid test susulan. Keikut- sertaan di ajang OSN tingkat provinsi tak menggugurkan kewajiban untuk mengikuti ulangan.

Kembangkan Toleransi

Mengikuti OSN memberi kesempatan luas bagi Yulia untuk berteman dengan para siswa dengan aneka keyakinan. Hal itu membuatnya bisa belajar dan mengembangkan sikap toleran. “Aku berteman dengan anak-anak BPK Penabur, itu bukan karena agama melainkan pengetahuan, supaya lebih bisa saling belajar dan menghargai,” terang Yulianingsih.

Lagi pula, kata Yulianingsih, Indonesia itu plural, dan kemajemukan itu harus diterima. “Semua agama mengajarkan toleransi, dan hidup rukun bermasyarakat. Kalau untuk ibadah ya masing-masing,” katanya.

Belajar dari Sang Idola

Lalu siapa ilmuwan yang menjadi idola? Mendapatkan pertanyaan ini, Yulianingsih menyebut dua nama. Pertama Albert Einstein sebagai idola internasional. Sedangkan dari Indonesia Profesor Doktor Yohanes Surya.

Dari Albert Einstein Yulia terinspirasi etos sang ilmuwan dalam melakukan uji coba. “Aku sejak kecil mengagumi Albert Einstein, karena ia menjadi orang yang gigih dalam berekperimentasi. Ia berhasil menggerakkan generator dari percobaan kecil yang dilakukannya,” ungkapnya.

Sedangkan dari Fisikawan Yohanes Surya, Yulia punya dua alasan kenapa memfigurkan. “Yohanes Surya itu punya kepedulian tinggi terhadap kemajuan bangsa Indonesia, khususnya dalam upaya memasyarakatkan fisika. Kedua, Yohanes Surya itu bakti terhadap orangtua. Jam tiga pagi sudah membantu jualan kue, sampai dia menjadi mahasiswa unggul dalam bidang fisika,” papar Yulianingsih mengajukan dalih.

Yulia ternyata tak berhenti sebatas mengagumi Yohanes Surya, namun ia pun mempelajari kiprah serta latar belakang sosok tokoh fisikawan yang dikaguminya. “Saya banyak membaca biografi Yohanes Surya,”ungkap Yulianingsih.

Menyaksikan idolanya tak hanya pandai ilmu fisika, namun juga berbakti terhadap orangtua, Yulianingsih kian yakin jika restu orangtua benar-benar diharapkan. “Tanpa mereka (orangtua: RED.) apalah jadinya seorang anak,” kata Siswi SMAN 94 Jakarta.

Dan Beasiswa Pelangi, tambah Yulianingsih, sangat membantu dirinya dalam mengatasi beban orangtuanya untuk membayar biaya sekolah. “Sebelumnya aku tak jarang telat bayar SPP. Sekarang tidak lagi,” ungkapnya.

Meski kesibukannya menyiapkan diri menjadi peserta olimpiade fisika sempat membuat peringkat kelasnya turun dari 1 menjadi 2 saat kelas XI, namun ia terus berekad memperbaikinya. “Harapannya, dalam UN yang akan datang, nilai pelajaran matematika dan IPA bisa mencapai 10,” kata Yulia, bertekad. Semoga. (Dian Riyanawati)

© 2009 - Program Beasiswa Pelangi.